Budaya / Seni Rupa

Singapore Biennale 2016: Mirror Mirror

Biennale Singapura yang berjudul puitis ‘An Atlas of Mirrors’, akan mempertunjukkan karya-karya seni dari Asia yang memperlihatkan kedekatan ikatan tiap negara di wilayahnya, dan dalam prosesnya memperlihatkan persamaaan dan perbedaan mendasarnya. Acara ini diorganisir oleh Singapore Art Museum (SAM) dan dikomisikan oleh National Arts Council of Singapore, dan akan dilaksanakan pada 27 Oktober hingga 26 […]

25 Okt, 2016 | Oleh Luxuo

luxuo-id-titarubi_shadow-of-surrender

Biennale Singapura yang berjudul puitis ‘An Atlas of Mirrors’, akan mempertunjukkan karya-karya seni dari Asia yang memperlihatkan kedekatan ikatan tiap negara di wilayahnya, dan dalam prosesnya memperlihatkan persamaaan dan perbedaan mendasarnya. Acara ini diorganisir oleh Singapore Art Museum (SAM) dan dikomisikan oleh National Arts Council of Singapore, dan akan dilaksanakan pada 27 Oktober hingga 26 Februari 2017.

Edisi sebelumnya, ‘If The World Changed’, dilaksanakan pada 2013, berfokus pada Asia Tenggara. ‘An Atlas of Mirrors’ memperluas fokusnya ke Asia Selatan dan Timur juga; diorganisasikan oleh Direktur Kreatif Susie Lingham dan tim kuratornya dari SAM: Joyce Toh, Tan Siuli, Louis Ho, Andrea Fam dan John Tung; bersama dengan rekan kurator Suman Gopinath dari Bangalore, India; Nur Hanim Khairuddin dari Ipoh, Malaysia; Xiang Liping dari Shanghai, Cina; dan Michael Lee dari Singapura.

Kali ini, hanya ada sembilan kurator, dibandingkan dengan 27 kurator yang terlibat di edisi Singapore Biennale sebelumnya. “Untuk edisi kali ini, kami memilih untuk memiliki tim kuratorial yang lebih kecil dibandingkan dari edisi 2013 sehingga perbincangan diantara semua yang terlibat akan menjadi lebih menarik,” kurator SAM Louis Ho menjelaskan.

luxuo-id-adeela-suleman_dread-of-not-night

Adeela Suleman Dread Of Not Night

Loka karya kuratorial diperlukan untuk memastikan standar tinggi dari eksibisi yang luas ini. “Semua proposal proyek telah diumumkan untuk direnungkan – dan didebatkan – yang menjadika beberapa sesi yang hidup dan berenergi. Itu adalah bagian dari proses kreatif,” ujar kurator SAM Andrea Fam. “Sebua eksibisi yang penting adalah satu yang memancing pemikiran dan memicu debat, dan skala usaha Singapore Biennale tentu saja meliputi aspek-aspek tersebut.”

Eksibisi tersebut akan menghadirkan lebih dari 60 karya dari lebih dari 50 seniman dari 19 negara dan wilayah. Singapura adalah negara yang paling banyak terwakili, dengan 10 seniman berpartisipasi, termasuk David Chan, Fyerool Darma dan Melissa Tan. Seniman Indonesian termasuk Ade Darmawan dan Eddy Susanto. Seniman Cina Qiu Zhijie dan Ni Youyu juga berpartisipasi. Dari Filipina, ada Martha Atienza, Patricia Eustaquio dan Dex Fernandez, diantaranya. Beberapa negara diwakili oleh seorang seniman. Sri Lanka contohnya, diwakili oleh Pala Pothupitiye, sementara Bangladesh diwakili oleh Munem Wasif.

Highlight

Mayoritas dari karya seni adalah ditugaskan atau adaptasi dari karya yang sudah ada yang merespon pada tema biennale. Sebuah highlight adalah instalasi video karya seniman Brunei Faizal Hamdan yang mengeksplorasi persimpangan dari migrasi paksa di Asia Tenggara selama Perang Dunia ke-II dan masa lalu keluarganya. “Kakek dari seniman tersebut dipaksa keluar ke Brunei dari Jawa oleh tentara Jepang, dan tetap tinggal setelah masa pendudukan berakhir untuk membesarkan keluarga,” ujar Fam. “Ini adalah karya penting dari seniman dari negara yang jarang direpresentasikan di sirkuit seni kontemporer – bahkan di wilayah ini.”

Seniman lain yang karyanya untuk Biennale adalah sebuah eksplorasi dari sejarah negaranya adalah ‘Black, White, Red’ (2016) karya Nguyen Phuong Linh, sebuah instalasi multimedia yang melihat perkebunan karet colonial di Vietnam Tengah dan Selatan dan cerita-cerita yang mereka hadirkan tentang Vietnam. “Saya menginvestigasi kebun karet tersebut dan bagaimana ia bergerak ke dataran tinggi selatan dan tengah Vietnam selama kolonialisasi Perancis, dan juga bagaimana proletariat muncul dan sosialisme bertumbuh,” ujar sang seniman, yang memulai karyanya dua tahun lalu. “Perkebunan karet tersebut dan tanahnya menginspirasi ketakutan dan pesona di dalam saya, membawa janji dari kekayaan yang tak dikenal dan kesempatan untuk menemukan spirit tua.”

luxuo-id-munem-wasif_land-of-undefined-territory

Munem Wasif

Sebagian dari seniman tersebut membahas isu terkini. Seniman Malaysia Azizan Palman mempresentasikan ‘Putar Alam Café’, sebuah karya interaktif dibuat khusus untuk Singapore Biennale. Menjelaskan penamaan dari kafe tersebut, jelas senimannya, “dalam Bahasa Malaysia, ‘putar alam’ merujuk pada seorang dukun, seseorang yang suka mencurangi, menipu, membodohi dan memperdaya orang lain untuk keuntungan egoisnya sendiri.” Kafe tersebut adalah tempat dimana penonton dapat mengobrol tentang permasalahan terkait superpower negara Barat di dunia pasca kolonial setelah disensor media.

Lokasinya didandani agar terlihat seperti kafe, namun juga terdapat informasi dan gambar yang telah dipilih senimannya untuk memulai diskusi tentang apa yang terjadi di dunia saat ini, yang difasilitasi seniman tersebut. Ia menyampaikan, “Dengan mempersilakan orang-orang dari latar belakang dan kondisi berbeda untuk berdiskusi tentang berbagai isu – mulai dari politis, ekonomis, dan sosial hingga religious, budaya dan seni – saya mencoba untuk menyelenggarakan eksperimen sosial untuk menunjukkan bagaimana media, yang kemungkinan adalah ‘dukun’ terbesar dari mereka semua, dapat mempengaruhi persepsi kita akan realita dan pengertian tentang hal-hal sekitar kita.

Sementara banyak karya seni yang dibuat spesial untuk biennale, 12 dari itu adalah pinjaman, dipilih akan relevansinya terhadap tema Biennale. Dua dari karya tersebut adalah dari seniman Hmong-Laos, Phasao Lao dan Tcheu Siong. Pasangan suami-istri ini berkontribusi kepada praktek seni satu sama lain yang berbeda. “Siong membantu suaminya dengan menampilkan tugas kecil di menjahit dan komposisi; dan Lao, sebagai dukun desa, menampilkan tugas signifikan sebagai interpreter melalui interpretasinya dari makhluk dan karakter abstrak ‘disaksikan’ di mimpi Siong yang kemudian dijadikan di karya tekstil skala besar,” jelas Ho. “Bersama, duo tersebut memproduksi karya yang berbicara tentang konsep universal dari silsilah, pergerakan dan migrasi dan simbolisme dan representasi.”

Situs utama dari Biennale akan bertempat di Singapore Art Museum di Bras Basah Road dan Sam at 8Q di Queen Street. Karya seni juga akan dipampangkan di berbagai lokasi bersejarah lainnya termasuk Asian Civilisation Museum, National Museum of Singapore, The Peranakan Museum. The SMU Green dan De Suantio Gallery, SMU, yang berlokasi di dalam Civic and Cultural District, juga akan merumahi beberapa karya.

luxuo-id-map-office_desert-islands_2009_goethe-institut-hong-kong

Map Office Desert Islands, 2009

Proyek Afiliasi

Sebagai tambahan, akan ada eksibisi di Institute of Contemporary Arts (ICA) Singapore di LASALLE College of the Arts, dan juga DECK disebelahnya, sebuah tempat seni independen didedikasikan untuk seni fotografi di Singapura dan Asia Tenggara, di Prinsep Street. Ini semua adalah proyek berafiliasi dari Singapore Biennale, dan refleksi akan tema kuratorialnya.

‘The World Precedes the Eye’ di ICA Singapore didukung oleh Lee Foundation and the Cultural Matching Fund. “Eksibisi ini mendalami seniman generasi terkini yang membuat berbagai bentuk baru dari pengetahuan dan pengalaman ‘material’,” ujar kurator Bala Starr, Silke Schmickl dan Melanie Pocock. “Judul dari eksibisi ini merefleksikan arah baru ke ‘realisme baru’ – sebuah konsep yang ‘matter matters’ – dalam seni kontemporer.”

Judul eksibisi ini juga tampaknya memainkan judul dari biennale meskipun ia menangkap esensi karyanya. Cermin tersebut, tanpa mata, tidak menjalankan fungsi mencerminkan apa yang ada di depannya. Tetapi untuk benar-benar melihat dunia, sebagaimana disimbolkan di atlas, kita harus memahami and mengapresiasi bahwa ia ada jauh sebelum manusia ada, dan mungkin akan terus ada setelahnya, dan memiliki kemungkinan yang tak terjamah dari kita. Para kuratornya mencatat bahwa “karya-karya ini mengisyaratkan keberadaan dari dunia material baru yang berada di luar batasan pengetahuan saat ini” dan bahwa “pelajaran ini adalah kita berbagi dunia ini dan bukan subyek primernya – dunia tidak dikonstruksi di pikiran kita.”

Sembilan seniman akan mempresentasikan karya yang menantang apa yang kita tahu akan dunia. Hal ini termasuk sebuah set dari 16 lukisan dan karya di atas kertas dari Firenze Lai dan sebuah instalasi film 16mm oleh Pratchaya Phinthong. Shimura Nobuhiro akan menghadirkan video lainnya berjudul ‘Ternak Jepang’. Sebuah karya suara oleh Zou Zhao akan diputar selama eksibisi. Seniman lain yang mengikuti adalah Ang Song-Ming, Cheng Ran, Matt Hinkley, Nabilah Nordin dan Zeyno Pekünlü. Melengkapi ‘The World Precedes the Eye’ adalah presentasi proyek solo, ‘Black-Hut’ oleh seniman Indonesia Boedi Widjaja yang melihat akan persimpangan dari arsitektur dengan memori kolektif dan personal.

DECK akan mempresentasikan dua eksibisi oleh seniman Singapura: ‘The Natural History of an Island’ oleh Ang Song Nian. Kedua eksibisi tersebut melihat akan intervensi manusia, di tata ruang alam. Zhao memetakan secara fotografis evolusi dari tata ruang alam Singapura melalui sejarah abad 20, sementara Ang menginvestigasi dampak dari polusi udara konstan dari kebakaran hutan di Indonesia waktu belakangan.

Cerita ini juga tersedia dalam bahasa Inggris. Baca di sini: Singapore Biennale 2016: Mirror Mirror


 
Back to top