Gaya / Arloji & Perhiasan

Review: Rolex Air-King 2016

Memang sulit menjadi Rolex Air-King. Terlepas dari sejarahnya yang terkemuka, banyak orang hanya memikirkan tentang GMT-Master II ketika mereka mencari jam tangan aviasi Rolex. Seseorang mungkin akan membicarakan Sky-Dweller namun hanya bila sangat diperlukan, dan hanya penggemar sejati Rolex akan mengingat Air-King.

15 Nov, 2016 | Oleh Luxuo

luxuo-id-air-king-1

Memang sulit menjadi Rolex Air-King. Terlepas dari sejarahnya yang terkemuka, banyak orang hanya memikirkan tentang GMT-Master II ketika mereka mencari jam tangan aviasi Rolex. Seseorang mungkin akan membicarakan Sky-Dweller namun hanya bila sangat diperlukan, dan hanya penggemar sejati Rolex akan mengingat Air-King.

Namun mereka juga tidak dapat dipersalahkan. GMT-Master II adalah sebuah lakon yang sulit diikuti, terutama setelah segala usaha penuh semangat yang mengelilingi Pepsi Cerachrom bezel merah-biru. Sekilas, itu tampak seperti keputusan yang bijak bagi Rolex untuk menawarkannya pada emas putih, karena jika ia tersedia dalam metal, saluran telepon mereka akan menjadi lebih panas daripada tungku yang digunakan untuk sinter bezel Cerachom. Namun kami tidak setuju.

Air-King mengingatkan kembali pada 1930an, sebuah periode yang dianggap sebagai tahun keemasan dalam dunia penerbangan. Ini merupakan era dari kemajuan luar biasa di dunia penerbangan dan prestasi pionir dalam perjalanan udara. Sebenarnya, gagasan akan penerbangan jarak-panjang telah direalisasikan saat itu. Penerbang Inggris Charles Douglas Barnard merupakan salah satu penakluk angkasa pertama, setelah mencetak beberapa rekor penerbangan. Tentang Rolex Oyster, ujarnya, “kualitas istimewa dari render jam tangan Rolex membuatnya cocok untuk tujuan penerbangan dan saya mengusulkan untuk menggunakannya pada seluruh penerbangan jarak jauh di masa depan.”

Pada 1933, jam tangan Oyster menemani Ekspedisi Houston setelah ia menjadikan penerbangan pertama melewati Gunung Everest pada ketinggian melebihi 10,000 m (33,000 kaki) dalam kondisi iklim ekstrim. Pada 1934, Owen Cathcart-Jones dan Ken Waller melakukan perjalanan pulang-pergi dari London ke Melbourne dalam waktu rekor dengan mesin-kembar De Havilland Comet, menggunakan Rolex Oyster sebagai kronometer dalam penerbangan. Dalam memperingati peristiwa kemenangan ini, dan peran Oyster dalam sejarah aviasi, maka Rolex menghidupkan kembali Air-King.

luxuo-id-air-king-2

Memiliki sedikit persamaan dengan Rolex Explorer, Air-King menikmati lebih dari 70 tahun produksi berkelanjutan, menjadikannya salah satu model Rolex yang pernah dibuat. Diperkenalkan pada 1945 melalui ref. 4925, itu dibuat dengan cepat untuk pilot RAF terlibat dalam Battle of Britain. Pendiri Rolex, Hans Wilsdorf, secara personal memulai koleksi Oyster yang didekasikan bernama “Air Series” untuk tujuan persis ini, dan semua jam tangan dalam Air Series (Air-Lion, Air-Tiger, Air-King, dan Air-Giant), namun hanya Air-King yang tetap diproduksi.

Kesederhanaan dan kepraktisana dari Rolex Air-King tetap mencolok pada ref. 116900. Meskipun itu merupakan serial Oyster terbang, ia menjamin ketahanan air hingga 100 m, dengan mesin tengah kasing dari satu blok baja padat. Tentu saja, Rolex menggunakan baja terbaik, yang adalah kelas 904L. Seperti kerang asli, tidaka akan dapat Anda buka paksa bagian belakang kasing bergalur karena ia telah ditutup erat kedap udara dengan peralatan spesial, yang menjamin bahwa hanya pembuat jam tangan Rolex yang dapat mengakses pergerakannya.

Yang menjadikan ref. 116900 menonjol dari Air-Kings sebelumnya adalah tanpa ragu lagi merupakan angkanya, dimana jamnya diindikasikan dengan 3, 6, 9, dan placeholder segitiga terbalik pada pukul 12. Angka-angka untuk menit mengisi ruang diantara interval lima menit dan jam, yang merupakan sebuah sumber debat dari para penggemar jam tangan. Yang semua mengapresiasi, adalah jarum jam gaya Mercedes dan sentuhan hijau pada jarum kedua, dan juga Rolex insignia. Dalam kontras yang mencolok pada pemutarnya yang menirukan pendahulunya, yang tentu saja merupakan desain elemen yang lebih dihargai oleh seluruh pemilik ikon ini.

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di World of Watches.

Cerita ini juga tersedia dalam Bahasa Inggris. Baca di sini: Review: Rolex Air-King 2016 


 
Back to top