Budaya / Seni Rupa

Dedy Sufriadi Ungkap Makna Hidup Autentik

“Sebelum kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik, kita mesti membuka diri akan setiap kritik,” – Dedy Sufriadi.

25 Agu, 2020 | Oleh Ryan Mario

Redemption Song. 150cmx150cm. Acrylic, marker, oil stick, dan pensil di atas kanvas 2018

Tahun 1960-an menunjukkan perubahan drastis akan iklim artistik Indonesia yang turut menggambarkan akan perubahan sosial, politik dan budaya. Meski gaya Realisme Sosial yang dibawa partai komunis berintegrasi ke gaya seni selama era Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Suharto, seni, sastra dan dialog yang mengungkap realitas akan etnik, ras, dan hubungan seksual tetap bertahan meski dalam kondisi tidak mengenakkan yang terus menerus. Sekilas dunia seni Indonesia hari ini bisa jadi telah meninggalkan itu semua dan keraguan akan perkembangan sejarah Indonesia, oleh karenanya kebebasan yang ada sekarang mengekspresikan sesuatu dimana tak lagi ada jejak penindasan. Sementara, sebaliknya, bahkan setelah era demokrasi, makna yang diusung beberapa karya seni Indonesia jika ditilik lebih jauh, justru menunjukkan keterkaitan mereka akan kondisi sosial, politik dan keagamaan. Inilah diantaranya yang ditunjukkan oleh karya-karya Dedy Sufriadi.

Dedy Sufriadi menggambarkan akan makna hidup autentik (yang dapat dipercaya) di tengah-tengah dunia yang absurd.

Into the Wild. 200cm x 200 cm. Acrylic, marker, oil stick, dan pensil di atas kanvas 2018

Lahir pada 1976, perspektif Sufriadi akan seni mulai berkembang ke arah berbeda begitu ia masuk kuliah di 1995, di usia 20 tahun. Pada masa di sekolah menengah atas ia mengetahui lebih banyak akan seni realisme; ini terjadi berkat kurangnya eksposure akan gaya seni lain yang kemudian menimbulkan persepsi terhadap gagasan bahwa seni yang baik adalah yang realistik. Namun, kemudian karya seni yang ia buat jauh dari apa yang ia pahami sebagaimana mestinya tersebut. Dapat dikatakan, pengetahuan yang ia peroleh di bangku kuliah di perguruan tinggi kemudian menjadi katalis yang menempatkan dirinya di dunia seni kontemporer Indonesia.

Sekilas karya yang dibuat Sufriadi mungkin tampak chaos, tapi sebenarnya itulah kekuatan dan kelebihan dari karya-karya yang dia buat. Dengan warna-warna kuat yang diaplikasikan di atas kanvas, lalu beberapa kata-kata atau gambar evokatif berkarakter gaya Expressionisme muncul di karyanya. Menunjukkan akan pemberontakan dan ekspresi alami dari tangan seorang seniman Yogyakarta. Bicara soal teknik, Sufriadi mengungkapkan dirinya mendapat inspirasi dari pelukis Indonesia Affandi, dan seniman asal Amerika, Jean-Michel Basquiat. Sufriadi menjalani proses berkarya dengan filosofi dari Existensialism yang menekankan agregasi otonomi dari pengalaman setiap individu. “Lebih dari 10 tahun saya mempelajari Existensialisme. Itu membuka pikiran saya akan melihat dunia dari sudut pandang berbeda, dan khususnya akan budaya Indonesia,” ujarnya pada Art Republik. Ia lebih jauh mengungkapkan akan kurangnya kebebasan bagi seniman Indonesia untuk mengungkap gagasan akan era sebelum 1998, karena pemerintahan sebelumnya yang tidak memberikan keleluasaan akan kritik terhadap politik. Sementara dunia seni Indonesia menjalani era baru, luka lama yang menoreh identitas seni Indonesia tersebut masih berefek hingga hari ini, seperti yang dialami sendiri oleh Sufriadi.

Dalai Lama, paradox Our Age #2. Acrylic, permanent pen di atas kanvas, 200cm x 200cm, 2013

Dalam proses berkaryanya, Sufriadi mulai ikut kompetisi ketika menjadi salah satu finalis Philip Morris Indonesian Art Awards di tahun 2000. Karyanya ‘Jogjakarta 20 Mei’ meraih sukses besar tidak hanya untuk dirinya sebagai seorang seniman, tapi juga terhadap perspektif Indonesia akan seni ketika ia meraih kemenangan akan karya seni abstraknya, yang menjadi penanda kesiapan Indonesia untuk menerima bentuk seni alternatif dan mengenalkannya ke dunia seni global. Sejak 2015, usai meraih kemenangan di Young Art Taipei, Sufriadi mulai melihat kesempatan untuk membawa karyanya ke kawasan oriental di dunia, dan Beijing, China menjadi pilihan berikutnya ketika ia menggelar pameran tunggal.

Dedy Sufriadi

Kini, lebih sering dari sebelumnya, Sufriadi mengalami konflik terhadap dirinya sendiri. Sementara ia bisa jadi bertarung dengan dirinya sendiri, ia mulai meyakini bahwa motivasi untuk perubahan dunia luar, haruslah, dan terlebih dahulu, diinisasi oleh introspeksi. “Sebelum kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik, kita mesti terlebih dahulu terbuka akan kritik terhadap diri kita sendiri.” Sebagaimana pendahulunya menjaga tetap berkarya diantara berbagai persoalan yang ada, berharap kesuksesan Sufriadi yang menenggelamkan dirinya sendiri sebagai seorang seniman adalah bagaimana ia membangkitkan autentisitas akan makna hidup di tengah-tengah dunia yang absurd lewat seri karyanya yang memuat teks gamblang dan gambar-gambar tersirat.

Lihat beberapa karya Dedy Sufriadi lewat laman Instagramnya atau kontak via [email protected].


 
Back to top