Budaya / Seni Rupa

For The Love of Art

ART REPUBLIK berkesempatan untuk one-on-one dengan Benny Oentoro, pemilik galeri Art Xchange tentang bagaimana menjalankan sebuah galeri seni.

20 Sep, 2016 | Oleh Luxuo
luxuo-id-forthelove-2

Let’s Eat Some Eggs II (tampilan detail) oleh Agung Santosa, 2014

ART REPUBLIK berkesempatan untuk one-on-one dengan pemilik galeri Art Xchange, Benny Oentoro. Teks oleh Nadya Wang

Benny Oentoro adalah pemilik Art Xchange Gallery di Singapura, yang dibuka di The Central pada 2011. Art Republik berbincang dengan Benny untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang diperlukan untuk menjalankan sebuah galeri seni.

Bagaimana awal mula Anda mengenal seni kontemporer Indonesia?


Saya adalah seorang desainer mobil selama bertahun-tahun. Saya pernah mencoba desain interior pada tahun 2009 dan saya jatuh cinta dengan seni kontemporer. Saya memiliki mentor,seorang teman dari keluarga yang merupakan kolektor seni. Ia adalah sosok yang membuka mata saya untuk melihat seni kontemporer Indonesia. Ia mengajarkan saya bagaimana menghargai seni, dan sejak saat itu saya mulai belajar sendiri melalui buku-buku dan informasi yang tersedia di internet.

Kapan Anda memiliki ide untuk membuka Art Xchange?


Saya awalnya memang menjalankan sebuah galeri bersama dua mitra di Surabaya tapi tidak lama kami memutuskan berpisah karena visi kami berbeda. Saya kemudian membuka Art Xchange di kota yang sama. Pada tahun 2010, galeri saya berpartisipasi dalam ajang Affordable Art Fair di Singapura untuk melihat apakah akan menjadi ide yang baik untuk membuka galeri di Singapura. Lalu galeri ini yang dibuka pada tahun berikutnya di The Central. Sekarang, galeri di Surabaya dialih fungsikan sebagai gudang untuk menyimpan lukisan saya, dan saya mengoperasikan galeri di Singapura.

luxuo-id-forthelove-4

Benny Oentoro dengan Dr. Oei Hong Djien

Sebagai pemilik galeri, bagaimana Anda mencari seniman sebagai representasi?


Saat pertama kali menjangkau seniman dan mencari karya yang bagus untuk dibawa ke galeri sangatlah sulit. Perlahan tetapi pasti, melalui karya-karya saya dan para seniman yang kami wakili, seniman lain mulai mendekati kami. Ini adalah perkembangan yang baik, tetapi juga berarti saya harus lebih selektif daripada sebelumnya tentang siapa yang akan menjadi representasi dari galeri ini.

Apa kriteria Anda dalam memilih seniman?

Galeri ini bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi seniman muda untuk menunjukkan bakat mereka kepada dunia. Saya memilih seniman representasi berdasarkan kekuatan masing-masing. Saya ingin bekerja dengan seniman yang akan memiliki hubungan jangka panjang dengan galeri.

Sebagai pemilik galeri, apa yang Anda lakukan untuk memastikan bahwa para seniman yang Anda wakili berkualitas?

Saya telah menghadiri banyak pameran seni, seperti di Shanghai, Dubai, dan India, untuk melihat seni yang sedang dibuat dan kualitas seni dari para seniman favorit saya. Kemudian saya kembali ke Indonesia untuk melihat pekerjaan seniman galeri dan berbagi apa yang saya pelajari dari pameran kepada mereka, dan mencoba sebisa mungkin untuk membantu mereka terus meningkatkan kinerja, serta menjadi seniman yang lebih baik.

Apakah kolektor dari galeri Anda sebagian besar orang Indonesia?


Para kolektor datang dari seluruh dunia. Lucunya, saya belum pernah mengadakan pameran di Indonesia sebelum tahun 2015. Pada hal tahun 2013, Art Xchange Gallery menggelar pameran ‘Picturing Picture’ yang memamerkan karya-karya seni oleh 21 seniman kontemporer Indonesia dan dikuratori oleh kurator senior Indonesia, Jim Supangkat di Fine Arts Museum, Ho Chi Minh. Ia mengatakan kepada saya bahwa banyak orang tahu mengenai seniman yang telah mendukung kami, tetapi kebanyakan di antara mereka berasal dari kalangan di luar Indonesia. Kemudian ia mendesak saya untuk memamerkan karya 21 seniman ini di Tanah Air. Saya mengindahkan nasihatnya dan untuk pertama kalinya tahun 2015 lalu, saya berpartisipasi dalam Bazaar Art Jakarta.

Apakah usaha tersebut sukses?

Ya. Kami menerima sambutan hangat. Begitu pula dengan seniman-seniman kami yang muncul dalam pemberitaan pers Indonesia. Ini merupakan langkah bagus untuk seniman dan galeri karena karya kami dipamerkan bersama dengan karya-karya seniman kenamaan pada pameran tersebut.

luxuo-id-forthelove-3

Memory II (tampilan detail) oleh Camelia Mitasari Hasibuan, 2014

Selain membesarkan nama seniman, apa yang Anda anggap penting sebagai seorang pemilik galeri?


Saya tertarik untuk membantu orang menghargai nilai intrinsik seni, bukan semata-mata harganya saja. Saya sangat menikmati momen saat klien datang ke galeri untuk mempelajari lebih lanjut tentang karya-karya seni dan seniman yang mengerjakannya.

Apa yang paling Anda banggakan dari pencapaian Art Xchange?


Saya merasa bangga ketika kolektor melihat pekerjaan seniman kami dari tahun ke tahun dan merasakan perbaikan. Saya juga senang ketika seniman kami tampil di media. Secara umum, saya senang ketika orang melihat karya para seniman dan menghargainya.

Apa rencana selanjutnya dari galeri Art Xchange?

Saat ini saya berencana untuk pindah dari galeri sekarang ke area yang lebih luas lagi dan saya sedang berusaha mewujudkannya. Saya berencana untuk mengadakan ekshibisi in-house dan acara-acara yang akan diadakan di ruang yang lebih besar lagi. Dan seperti biasa, kami akan terus berusaha untuk meningkatkan kinerja kami.

Kami juga sedang mencari tahu dan ingin berpartisipasi di pameran-pameran di luar Asia. Pada tahun 2014, kami mengambil bagian dalam Art Antwerp International Art & Design Fair. Di sinilah pertama kalinya karya kami dipamerkan di Eropa. Pada bulan April 2015 lalu, kami mengambil bagian dalam Artexpo New York. Kami tertarik untuk membuat lebih banyak orang mengenal seniman galeri.

luxuo-id-forthelove-5

Mengapa? (Why?) (tampilan detail) oleh Antoe Budiono, 2014

Artikel ini sebelumnya diterbitkan di ART REPUBLIK Indonesia.


 
Back to top