Budaya / Seni Rupa

Chok Yue Zan Ungkap Kenangan Masa Kecil akan ‘Surga yang Hilang’

Chok Yue Zan adalah salah seorang seniman bertalenta di dunia seni kontemporer, yang percaya bahwa kenangan di masa lalu seseorang dapat berpengaruh sangat siginifikan pada masa depannya.

05 Agu, 2020 | Oleh Rai Rahman

Sebagai pemenang penghargaan bergengsi UOB Painting of the Year 2017 di Malaysia, seniman muda asal Kuala Lumpur Chok Yue Zan adalah seniman bertalenta di dunia seni kontemporer saat ini. Lahir di Tawau, Sabah, Zan bertumbuh dengan kakek neneknya, di lingkungan yang dikelilingi hutan dan pemandangan hijau mengesankan. Tempat itu menjadi suaka, ruang yang memberinya kebahagiaan tak terhingga yang kemudian ia anggap sebagai surganya yang hilang. Terinspirasi dari nostalgia dan tema akan masa lalu – sekarang – dan masa kini, Zan percaya bahwa kenangan seseorang di masa lalu dapat memberi efek sangat nyata pada masa depannya.

Chok Yue Zan membagikan kenangan masa kecilnya akan ‘Surga yang Hilang’.

Anda lahir di Sabah, Malaysia Timur. Bagaimana Sabah dan hutan hijaunya menjadi inspirasi dalam karya seni?

Sabah, Borneo adalah tempat indah yang dikelilingi hutan hijau dan juga lautan. Tak seperti anak-anak lainnya, saya beruntung bertumbuh dengan kakek nenek saya yang tinggal di tempat yang indah bak surga (hutan) tersebut. Sungai-sungai yang airnya jernih sehingga tampak ikan-ikan di dalamnya, itik, bebek yang bersuara seolah sedang bernyanyi pada ikan-ikan, ayam, dan anjing yang saling mengejar satu sama lain, sementara kucing tidur hampir sepanjang hari. Ini semua adalah momen kenangan saya yang menyenangkan dan bahagia. Saya pikir ibu saya telah membuat keputusan yang tepat akan masa kecil saya itu.

 

Tema yang kamu pilih dalam beberapa tahun terakhir berkaitan dengan Surga, atau ‘Surga yang Hilang’. Ceritakan lebih jauh surga mana yang dihadirkan di karya Anda?

Hutan (dalam hal ini disebut surga) sangat berarti buat saya. Saya ingat pertama kali ketika berada di Kuala Lumpur, saya dengan sangat mudah tersesat di kota besar. Namun, saya tidak pernah tersasar di sana. Pohon dan sungai selalu mengarahkan saya kembali ke jalan yang benar. Surga adalah ruang, di saat yang sama ia juga guardian atau penjaga. Saya berandai-andai dapat menghabiskan waktu sepanjang tahun di sana saat ini. Kenangan indah selalu hadir saat tinggal bersama kakek nenek. Mereka mengajarkan saya bagaimana mengumpulkan telur dengan cara yang benar, dan memetik buah di kebun.

Setelah nenek saya meninggal dunia di 2006, surga yang sangat dekat di hati saya itu perlahan mulai menghilang. Semua menjadi mimpi indah. Kehidupan yang dulu dan ruang itu pergi. Setelah beberapa tahun, kedua orangtua saya bercerai. Hubungan saya dan keluarga pun berubah, dan semua terasa asing. Surga tak lagi hanya menjadi ruang, di saat yang sama, adalah segalanya bagi saya.

Memory Of The Ocean Acrylic and charcoal on canvas, 115(H)x210(W)cm (Triptych), 2018

Konsep ‘memori’ sangat menjadi fokus di karya seni Anda. Bagaimana itu memengaruhi visi Anda ke depan?

Pameran tunggal terakhir saya ‘Retrospect of Paradiso’ 2018 di Art Porters Gallery adalah kumpulan akan ingatan atau memori masa kecil saya. Di pameran ini, saya memberikan tribut pada hubungan keluarga, dan tempat yang saya tinggal dulu. Sebuah naratif tentang hubungan saya dan surga, dan hubungan saya dengan keluarga.

Baru-baru ini, saya bekerja membuat seri baru yang diberi judul ‘De Upside Down’. Seri ini adalah kontemplasi saya akan ketidakseimbangan dunia dan kenangan personal saya. Dunia yang kita tinggal ini sementara. Tak ada yang permanen. Semua berubah secara cepat dalam waktu singkat dan pemandangan yang kita dulu terbiasa menjadi asing. Dapatkah kita percaya kenangan kita? Lewat seri ini, saya ingin menekankan hubungan antara kenangan dan keterasingan, menggunakan lanskap alam sebagai analoginya. Karya-karya ini dibuat berdasarkan kenangan pribadi saya dan pengalaman bertumbuh di Sabah, dan saya harap publik dapat terkoneksi dengannya melalui cara mereka sendiri.

Dalam waktu bersamaan, saya merencanakan seri lainnya. Proyek yang saya fokuskan pada bagaimana teknologi saat ini memengaruhi kehidupan dan juga kenangan kita. Ini adalah karya interaktif dengan orang-orang yang menggunakan ponsel pintar. Ponsel yang kini menjadi peralatan penting dalam kehidupan sehari-hari. Isu besar yang kini hadir adalah bagaimana informasi direkam dengan fotografi ponsel.

Kenangan selalu menjadi pusat dari karya-karya seni saya. Semuanya tentang cerita orisinal yang terjadi dalam perjalanan kita. Saya percaya setiap orang punya kenangan unik di dalam hatinya.

We Used To Be Together, Strong Like Stones II Acrylic, charcoal and oil on canvas, 140(H)x120(W), 2018

Apakah karya seni dari seniman kontemporer asal China Zhang Xiaogang dan karya-karyanya di ‘hubungan darah dan kenangan keluarga’ (bloodlines and family memories) berhubungan dengan Anda, dan jika iya, sejauh apa?

Iya, karya Zhang Xiaogang ‘Bloodlines and Family Memories‘ beresonansi dengan saya. Saya menggunakan foto-foto jadul dari album keluarga saya, seperti halnya Zhang Xiaogang. Ia menggunakan garis merah untuk menghubungan anggota keluarga dalam lukisan-lukisannya, menyimbolkan hubungan darah. Dalam karya saya, saya menggunakan bebatuan untuk merepresentasikan hubungan. Bebatuan sangat kasar, tapi saya melukis dengan menggunakan arang. Arang sebagai materi yang mengilustrasikan akan pelemahan surga dari waktu ke waktu. Kayu bertransformasi menjadi arang lewat suhu yang tinggi, menandakan perubahan. Di sisi lain, kerapuhan akan arang berkonotasi akan kualitas akan yang fana dan rentan.

I Thought, We Can Stay Strong Like Stones Acrylic, charcoal and oil on canvas, 120(H)x180(W), 2017

Sejauh mana pentingnya penghargaan akan karya di 2017 ketika memenangkan UOB Painting of the Year Award (Malaysia)?

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih pada UOB (United Overseas Bank) yang teah menggelar program ini untuk mendukung seniman bertalenta setiap tahunnya. Ini telah mengubah hidup saya. Saya tak punya ekspektasi tinggi ketika menyerahkan karya pertama saya seri ‘Tough Like Stones, I Thought’ ke UOB Painting of the Year 2017. Saya ingin mendapatkan eksposur untuk seri terbaru saya. Satu kesempatan buat saya saat itu. Secara mengejutkan, saya memenangkan Painting of the Year (Malaysia) di 2017, dan juga residensi selama sebulan di Fukuoka Asian Art Museum. Penghargaan ini memberi saya kepercayaan diri yang sangat besar dalam bidang ini. Juga dorongan besar akan langkah saya ke depannya. Di saat yang sama, menariknya, saya bergabung dengan Art Porters Gallery sebagai salah satu senimannya. Ini awal yang baru, dan tantangan baru dalam perjalanan berkarya saya.

Teknik yang Anda gunakan dalam berkarya yakni mengukir ke dalam kanvas untuk memunculkan warna-warna. Lalu, menggunakan gesso dengan pisau pemotong kayu untuk mengukirnya. Kapan Anda memulai mengadaptasi teknik ini dan dari mana inspirasinya berasal?

Saya mulai menemukan teknik ini di awal 2017, ketika saya menjadi tutor dan teknisi di studio di Desain Academy of Art, Kuala Lumpur. Tugas saya saat itu memandu murid dalam subjek seni grafis dan pahat. Saya selalu tertarik untuk mengeksplorasi medium dan material berbeda yang kemudian saya aplikasikan ke kanvas. Inspirasi ini datang dari cetak kayu. Di saat itu, saya penasaran apakah ada kemungkinan untuk mengukir di atas kanvas? Satu hari, saya menemukan bahwa gesso dapat diukir dan efeknya kurang lebih sama ketika mengukir di atas lino dan atau plywood. Teknik ini membuka jalan buat saya untuk memadukan warna dengan gesso dan juga mungkin untuk membuatnya dalam ukuran apapun yang saya inginkan.

Akhir-akhir ini Anda menggunakan teknik 3D dalam karya Anda, boleh ceritakan lebih jauh soal ini?

Saya tertarik dalam membuat tekstur di atas kanvas. Tekstur dapat diartikan sebagai kualitas taktil dari permukaan satu objek. Tampilannya memberi kesempatan akan indra sentuh kita, yang dapat menimbulkan rasa kesenangan, ketidaknyamanan, dan juga familiar. Tekstur adalah sesuatu yang saya dapat mainkan lewat manipulasi medium dan teknik untuk kemudian menyampaikan narasi akan emosi saya.

De UPSITE DOWN Oil on canvas, 120(H)x200(W)cm, 2019

Apakah visi Anda dalam dunia seni termasuk melangkah ke tingkat internasional ketika mulai bekerja sama dengan tim Art Porters Gallery?

Iya, saya memiliki kesempatan lebih banyak untuk memamerkan karya saya di tingkat internasional. Saya menikmati pameran tunggal pertama saya di Art Porters Gallery, Singapura, beberapa pameran bersama di galeri, di beberapa pameran seni di Jakarta Indonesia dan Kuala Lumpur. Kolektor karya saya tak hanya dari Asia Tenggara, tapi juga internasional. Di luar pameran, ada beberapa kesempatan untuk bekerjasama dengan penikmat seni lainnya melalui Art Porters Gallery. Saya sangat senang dan berterimakasih telah menjadi bagian dari Art Porters Gallery. Mereka selalu memberikan pengalaman yang berharga dan menciptakan kenangan yang baik saat bekerja bersama.

De UPSITE DOWN II Oil on canvas 120(H)x160(W)cm 2019

Kota mana yang kamu impikan untuk pameran tunggal berikutnya?

Saya sangat senang bisa menggelar pameran tunggal di mana saja. Baru-baru ini saya berencana menggelar pemaran tunggal kedua saya di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya bisa mengambil setiap kesempatan untuk bisa mendapat eksposur lebih di kota mana saja. Saya percaya tempat yang berbeda juga memiiki publik dan penikmat karya seni berbeda yang akan menikmati karya saya. Di saat yang sama, saya dapat mendengarkan apa yang mereka rasa ketika menikmati karya saya. Setiap orang memiliki pemahaman berbeda berdasarkan kenangan dan pengalaman mereka.

Anda seorang pengamat yang cerdik dan juga pencinta alam. Apa yang terlintas di pikiran Anda terkait situasi pandemi Covid-19 di Malaysia dan dunia saat ini?

Seperti kita ketahui Covid-19 berdampak sangat besar terhadap ekonomi global dan kehidupan sehari-hari. Seiring dengan itu, beberapa negara juga menghadapi persoalan sosial politik, termasuk Malaysia. Dari sudut pandang yang lain, ini adalah waktu yang baik untuk pemulihan bumi kita. Bagi saya, ini adalah waktu untuk berpikir akan permasalahan lingkungan, membaca buku, dan melakukan penelitian untuk proyek berikutnya.

 

Jika ada satu nama mentor yang memiliki pengaruh besar dalam karya seni dan visi terhadap dunia, siapa kira-kira?

Di awal karier, saya melakukan banyak riset akan Anselm Kiefer. Saya benar-benar menyukai karyanya. Saya belajar bagaimana ia berpikir dan material apa yang ia gunakan pada kanvas, material apa yang bernilai, dan apa teknik yang digunakan. Dari hal tersebut, saya selalu berpikir akan medium yang saya pilih dan bagaimana saya menarasikannya lewat konsep yang saya kerjakan, seperti halnya dengan arang dan teknik ukir dalam lukisan-lukisan saya.

For more information,

Visit: https://www.artporters.com/

Contact: [email protected]


 
Back to top