Budaya / Seni Rupa

Unsur Sebagai Bahan: Manish Nai

Datang dari keluarga pedagang tekstil, seniman India Manish Nai bertumbuh di sekitar desain dan tekstur. Terlahir di 1980 di Gujarat, India, dia adalah lulusan Drawing and Painting dari L. S. Raheja School of Art di Mumbai. Prudential Eye Awards diadakan di Singapura menamai ia sebagai salah satu seniman baru terbaik di Asia. Terkenal utamanya sebagai seorang pengukir, Nai menggunakan variasi media untuk membentuk komposisinya, terdiri dari kebanyakan material organis.

26 Okt, 2016 | Oleh Luxuo

luxuo-id-mn_e_12-001-l

Datang dari keluarga pedagang tekstil, seniman India Manish Nai bertumbuh di sekitar desain dan tekstur. Terlahir di 1980 di Gujarat, India, dia adalah lulusan Drawing and Painting dari L. S. Raheja School of Art di Mumbai. Prudential Eye Awards diadakan di Singapura menamai ia sebagai salah satu seniman baru terbaik di Asia. Terkenal utamanya sebagai seorang pengukir, Nai menggunakan variasi media untuk membentuk komposisinya, terdiri dari kebanyakan material organis.

Pada awal tahun 2000, Nai mengksploitasi kesempatan yang diberikan dari sisa-sisa rami dari bisnis keluarganya, serat tumbuhan yang banyak digunakan di India untuk pakaian, untuk membuat karyanya. Ia memadatkan raminya dan karton untuk membentuk bahan mentah dari patungnya. Selaras dengan struktur kayunya, padatan patungnya membentuk diantara bidang dua atau tiga dimensi.

Eksibisi terbarunya dengan galeri Perancis Galerie Karsten Greve, berjudul ‘Matter as Medium’, dibuka dari sekarang hingga 29 Oktober 2016, menunjukkan sebuah seri patung pastel yang mempertontonkan metode unik kompresinya. Dengan menggunakan metode ilusionis halus, ia tampak mencetak relief, lekukan dan tonjolan di permukaan kertas, menghasilkan sebuah polimorfisme dengan cekung dan cembung bervariasi. Tekstur dan bentuk yang menarik terbuat dari permainan bayangan dan cahaya, menambahkan hidup dan dimensi ke palet warna yang monoton. Dengan menggunakan kain bekas berwarna-warni, tongkat dan koran, ia menyuntikkan hidup dan makna pada bahan tua.

Salah satu dari karya pentingnya yang tak bernama dibuat tahun ini adalah satu yang berberat 100 kg, sepanjang 5,7 kaki terbuat dari burlap dicat indigo. Nai tercetus dengan proses membuat karya ini ketika ia sedang berpikir apa yang harus dilakukan dengan sisa-sisa benang. Ia menyimpan benang-benang tersebut di kotak kayu, dan saat membukanya setelah beberapa bulan, ia menemukan bahwa mereka telah membentuk persegi seperti kotak terbsebut. Nai memulai membuat cetakan kayu – pertama-tama kecil, kemudian berlanjut semakin besar – dimana ia meletakkan serat bak kertas koran tua dengan air, atau rami dihaluskan dengan lem. Hasil patung tersebut memakan bulanan untuk kering, tetapi keluar dalam bentuk simpel maupun menarik.

Pada 2011, Nai mengeluarkan eksibisi lainnya yang juga bermakna penting, seri ‘The Billboards’ – sebuah eksperimen sosiologi dimana sang seniman memotret papan reklame kosong. Ini setelah resesi 2008 dimana banyak papan reklame ditinggalkan kosong tanpa iklan. Nai secara digital mengabungkan beberapa versi dari foto tersebut dan menemukan bahwa pola-pola dan bentuk-bentuk geometris menarik tidak sengaja terbentuk. Komposisi ini merepresentasikan konsep dari serendity dan ketidaksengajaan yang bahagia yang mengkarakterisasikan proses artistik eksentrik Na’il; “Saya mempercayai proses, saya hanya dapat memahami suatu benda berfungsi setelah saya memegangnya.”

Meskipun lebih dikenal sebagai pemahat, prakteknya berfokus pada menciptakan gambar-gambar dan komposisi-komposisi ilusionis. Meskipun ia memiliki control dari kerangka umum karyanya, ia memilih untuk membiarkan mediumnya berkembang organis, seperti tekanan pada benangnya berbentuk kotak.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.galerie-karsten-greve.com

Cerita ini juga tersedia dalam bahasa Inggris. Baca di sini: Matter as Medium: Manish Nai 


 
Back to top