Budaya

Kreator Seri ‘Rhythm’, Dodit Artawan Memberontak dengan Menghancurkan Ilusi Kapitalis Kita

Lewat karyanya seri Rhythm terbaru, seniman Dodit Artawan menyuguhkan gambar botol alkohol dan boneka barbie sebagai sebuah kombinasi yang tepat layaknya anggur lezat dan steak enak di atas meja makan kapitalisme konsumen.

07 Sep, 2020 | Oleh Rai Rahman

Put your hands in the air (Tangan di udara) 150x200cm oil dan akrilik di kanvas 2012.

Masih ingat dengan lirik lagu hit tahun 1997 berjudul Barbie Girl dari Aqua, ‘life is plastic, it’s fantastic,’? Lebih dari dua dekade setelahnya, seniman Dodit Artawan menyampaikan kritiknya akan ungkapan tersebut lewat lukisan-lukisan foto-realistik miliknya.

Kreator ‘Seri Rhythm’, Dodit Artawan memberontak dengan menghancurkan ilusi kapitalis kita.

Lahir pada 1978, Dodit belajar seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali. Sebagai mahasiswa jurusan seni, eksposur akan gaya dan praktik di luar konvensi bentuk seni Bali lebih jauh membawanya pada inti dari apa yang disebut Taxu Art Clinic sebagai penolakan akan seni Bali untuk menyimpang dari identitas tradisionalnya.

Barbie Martini 200x200cm oil di atas kanvas 2011

Seni Bali memiliki akar Hindu-Jawa yang berkembang sejak Kerajaan Majapahit dan terus meluas hingga ke Bali di akhir abad 14. Beberapa diantaranya masih tak tersentuh oleh pengaruh barat hingga Perang Dunia Dua. Meski demikian, aspek dasar kemiripannya akan seni klasik (baroque folk art) dengan tema tropikal masih membedakannya sebagai sesuatu yang unik akan Bali.

Pool Party #1 150x200cm oil di atas kanvas 2011

Dodit memahami kemudian bahwa adopsinya akan foto realisme mendalam bukanlah untuk mempersempit tradisi Bali, dan bahkan jauh dari itu ketika subjek karyanya justru mengarah pada distorsi budaya konsumerisme di pulau dewata tersebut. Seperti yang ia sampaikan, “Hanya karena saya dari Bali, bukan berarti saya harus melukis sesuai gambar yang terdapat di kartu pos wisatawan.” Justru sebaliknya, karya yang dibuat Dodit menampilkan kesan sentuhan dari nuansa Beverly Hills yang ditujukannya pada ketakjuban desain pengemasan akan sebuah produk. Dodit ingin menyampaikan pada publik bahwa ia ingin mengajak kita untuk menyusuri lingkungan sekitar dengan kendaraannya mengunjungi toko-toko dan rak-rak mereka untuk melihat tren terbaru dan referensi budaya pop yang ia adopsi ke dalam komposisi karyanya.

Surfer Girl 150x150cm oil di atas kanvas 2014.

Ada kemungkinan ukuran lukisan Dodit yang besar yang menarik perhatian publik, atau bisa jadi juga karena pilihannya untuk menggambarkan botol alkohol kosong dan boneka Barbie sebagai subjek, tapi satu hal yang pasti bahwa imej yang ditampilkan dalam karyanya ini adalah refleksi akan ketidaksukaannya pada gaya hidup hedonistik Bali. Konsumsi alkohol yang besar oleh warga Bali telah mengakibatkan banyak gangguan kesehatan dalam jangka waktu lama. Diperparah lagi dengan kehendak wisatawan akan akses kolam renang dan bar yang mengakomodasi pelanggan kelas menengah, lalu kurangnya kontrol terhadap konsumsi alkohol sehingga patut dipertanyakan akan etika ketika remaja bawah umur juga bisa mendapatkan alkohol dengan mudah di toko-toko. Di samping tingginya konsumsi alkohol yang menjadi perhatiannya, apa yang juga turut jadi fokus dalam karyanya adalah pakaian seksi, di mana boneka plastik Barbie yang diproduksi Mattell kerap diasosiasikan dengan kontroversi sosial yang meluas tersebut. Ini, seperti halnya kombinasi yang pas antara anggur lezat dan steak enak di atas meja makan kapitalisme konsumen.

Exotic Cocktail #2 150x150cm oil di atas kanvas 2013.

Sukses dengan pameran solonya di Hong Kong, dan sejumlah pameran bersama di Amerika, Indonesia, Italia, Jepang, Malaysia, dan Singapura, Dodit telah punya sejumlah kolektor dari berbagai belahan dunia akan karya foto realistiknya. Namun, melanjutkan karakternya dalam berkarya dan tidak berdiam diri akan gaung sukses, ia termotivasi, kembali pada 2015 misalnya, untuk mengembangkan elemen baru diantaranya kontras ilusi akan kedalaman dan volume dengan karya dua dimensi. Tak hanya itu, alterasi pada gaya karyanya tidak membuat dia menjauh dari objek yang menarik perhatiannya, khususnya pada produk massal industri. “Ketertarikan pada hal tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat kontemporer kerap menjadi irasional hanya karena mereka inginkan kesenangan, dan dunia kapitalisme dengan senang hati memberikan fantasi yang mereka harapkan itu lewat produk mereka,” ungkapnya.

Pool Party #2 150x200cm oil di kanvas.

Adalah sebuah kemungkinan bahwa kita sebagai konsumen kerap tersasar di tengah pencarian antara mana yang ‘dibutuhkan’ dengan mana yang ‘diinginkan’, dan sikap berontak Dodit melalui karya seninya ibarat botol bir yang menimpa kepala kita yang menghancurkan ilusi tersebut sehingga kita dapat bertahan di tengah deru perlombaan tikus kapitalis ini.

Plastic Age no 5. 150x280cm paint marker dan akrilik di kanvas 2019.

Lihat evolusi artistik dan karya terbaru dari Line Rhythm Series milik Dodit lewat laman instagramnya.


 
Back to top