Budaya / Seni Rupa

Digital Love

Shawn Smith mengeksplorasi titik persimpangan antara teknologi dan realitas dalam tubuh karyanya yang terdiri dari patung kayu.

18 Sep, 2016 | Oleh Luxuo

luxuo-id-digital-love-falling-giraffe

ART REPUBLIK mengeksplorasi dunia pixel dari Shawn Smith.

Teks oleh Tyen Fong

Melihat dunia dalam bentuk pixel tidak mungkin akan terjadi sebelum kemunculan teknologi. Dengan pixilation, gambaran obyek nyata dapat direduksi menjadi bentuk yang belum sempurna, sehingga tampak kehilangan rincian halusnya.

Adalah seniman Amerika, Shawn Smith yang mengeksplorasi titik persimpangan antara teknologi dan realitas dalam tubuh karyanya yang terdiri dari patung kayu. Setiap patung terdiri dari potongan-potongan kecil kayu yang Smith pahat bersamaan. Pada tingkat dua dimensi, setiap karya menyerupai kolase yang terbuat dari ubin mosaik berwarna-warni. Smith memakai setiap potongan kecil sebagai komponen individual dari komposisi secara keseluruhan, lalu secara teliti menempatkan masing-masing bagian untuk membentuk satu gambaran utuh.

Lebih khusus, karya Smith menyelidiki hubungan antara alam dan dunia digital; misalnya, cara di mana kita berpotensi mengalami unsur alam melalui komputer dan layar televisi. Subyek utama untuk sebagian besar karya seninya adalah hewan.

luxuo-id-digital-love-atlas-moth-hawk-moth-falling-ostrich

Menggunakan gaya pixilation, ia membuat kerajinan patung yang mengesankan, elang, jerapah, antelop, dan lainnya. Selain hewan, ia juga terinspirasi dari bentuk-bentuk organik lain, seperti tanaman dan bagian tubuh.

Ia menyebut potongan-potongan tersebut “re- things” karena proses saat menciptakan karya. Titik tolaknya adalah gambar digital yang ia lihat secara online. Gambar online menyajikan sebuah detasemen dari realitas dengan kekurangan unsur fisik. Dalam proses artistik Smith, ia membayar pembuat foto online untuk mengembalikan ke bentuk fisik mereka.

Untuk proses pembuatannya, seniman memulai dengan selembar bahan seperti kayu lapis atau medium-density fiberboard (MDF) dan memotong strip dari berbagai ukuran panjang. Menggunakan warna yang dicampur tinta dan cat akrilik, setiap strip kayu dilukis tangan secara individual. Kulminasi strip kayu dalam berbagai panjang dan warna memberi patung kedalaman dan dimensi lebih yang ia mainkan sebelum perakitan semua potongan untuk menciptakan produk akhir. Mirip dengan cara setiap sel memainkan peran penting dalam suatu organisme, nilai karya Smith terletak pada peran masing-masing pixel dalam memainkan identitas objek.

luxuo-id-digital-love-acorn-woodpecker-falling-fox-bluebearded-hammercrest

“Saya dibesarkan di sebuah kota besar dan hanya merasakan alam melalui komputer dan layar televisi. Dengan berkarya, saya dapat membuat representasi patung tiga dimensi dari gambar alam dua dimensi yang saya temukan secara online. Saya membuat objek pixel ke pixel dengan tangan, strip kayu yang diwarnai dengan tangan juga melalui sebuah proses hingga menghasilkan tampilan licinnya dan kecepatan dunia digital,” jelas Smith.

Pria kelahiran tahun 1972 di Texas ini menghadiri Arts Magnet High School dan Brookhaven College sebelum lulus dari Washington University di St Louis, MO dengan BFA jurusan Seni Grafis pada tahun 1995. Ia menerima MFA in Sculpture dari California College of the Arts di San Francisco pada tahun 2005 dan artist-in- residencies dari Kala Art Institute di Berkeley, CA, serta CA dan Cite Internationale des Arts di Paris, Perancis. Karya-karyanya telah dipamerkan pada galeri solo dan grup di seluruh Amerika Serikat.

Dalam transposisi digitalnya ke bentuk pixilated tiga dimensi, Smith menyuling, mendistorsi, dan menghapus detail. Setiap karyanya merupakan tabrakan evolusi antara alam dan dunia digital, yang menggabungkan kekakuan matematika dan keindahan alam.


 
Back to top